Membahas Kebahagiaan memang tidak ada matinya, dari dulu sampai sekarang semua masih saja mencari apa itu kebahagiaandan segala sesuatu yang terhubung dengan kebahagiaan itu.
Fenomena yang ada, banyak bentuk persepsi di tengah masyarakat tentang bahagia, sehingga ada yang bilang kalau mereka itu bahagia, ada juga yang bilang kalau mereka ngak bahagia. Bahakan ada juga di temukan fenomena bahwa kadang seseorang yang merasa bahagia, namun menurut orang lain yang menilai, dia tidak lah bahagia, dan begitu juga sebaliknya. Ternyata begitu banyak persepsi yang berkembang.
Sebenarnya apa sih itu bahagia? dan mengapa harus bahagia?
Sering kita melihat orang yang kita anggap susah namun mereka bahagia menurut pendapat kita, atau ada mereka yang kekurangan namun menurut kita mereka bahagia. Ada yang bilang orang kaya orang yang bahagia, dan ada juga yang bilang kalau mereka yang miskin juga bahagia. Apakah kebahagiaan bisa kita sandingkan dengan kata susah? Atau kita teman kan dengan kata kaya? Ternyata ini tidak memberikan jawaban pasti.
Sebenarnya menurut penulis, kebahagiaan itu adalah “sebuah ungkapan dan wujud dari sebuah kepuasan diri setelah mencapai apa yang mereka ingin kan”. Dengan pengertian ini, bisa kita pahami, mereka yang tidak mencapai apa yang mereka ingin dan cita kan, maka mereka berpotensi untuk tidak bahagia. Karena dalam pendefenisisan yang penulis lakukan, sesungguhnya sebuah kebahagiaan itu diukur dari ketercapaian sesuatu yang diinginkan.dan dari sudut pandang ini bisa kita pahami ternyata sebuah kebahagiaan itu bersumber dari sebuah keinginan. Semakin banyak seseorang mempunyai keinginan, maka secara teori dia juga akan memiliki peluang untuk memperoleh kebahagiaan yang banyak atau pun sebaliknya memiliki kemungkinan untuk tidak bahagia yang cukup besar.
Jika kita mencoba merubah sedikit cara pandang kita dalam menilai sebuah kebahagiaan maka kita juga akan mendapatkan sebuah pendefeniasian baru terhadap sebuah kebahagiaan. Selain kita merujuk kepada hasil yang dicapai dari sebuah keinginan, kita juga bisa menilainya dari seberapa besar perjuangan yang dilakukan dan bagaimana kita memperoleh keinginan itu. Dalam arti yang lebih mudah, kita tidak bisa hanya berpatokan pada hasil saja, namun kita juga harus berpatokan kepada proses yang kita lakukan.
Ternyata dengan kita mampu menjadikan proses sebagai salah satu acuan kita dalam menilai sebuah kebahagiaan, maka kita akan mampu menilai sesuatu dengan penilaian yang lebih positif, objecktif dan tidak subjectif. Sebagai contoh “kita ingin membeli sebuah baju, karena ingin memiliki baju tersebut, akirnya kita berusaha untuk menabung, berkerja lebih keras atau apa pun melakukan usaha yang dapat menyokong tercapainya keinginan itu.” Nah ini dia yang penulis maksud. ternyata untuk mendapatkan sebuah baju, kita telah melakukan berbagai cara yang sangat membuat kita bisa meraih kebahagiaan, alangkah rugi jika kita menghargai ribuan usaha yang telah dilakukan, dengan mencap dan menfonis ternyata kita gagal dan tidak bahagia.
Satu hal penting, bagi mereka yang terlalu sering melakukan perbandingan kebahagian dirinya dengan kebahagiaan yang didapat oleh orang lain, lebih cenderung untuk sulit merasakan kebahagiaan, karena kebahagiaan itu adalah khas individu manusia. Dapat disimpulkan bahwa pandangan seseorang terhadap akan berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan cara ia memandang kebahagiaan itu.
“Tidak akan datang kebahagiaan kepada mereka yang selalu merasa diri mereka tidak pernah bahagia”
M. Rifqi Ariyul Haq, S.Pdi